Alat Musik Tradisional Banten

Alat Musik Tradisional khas dari Banten

Provinsi Banten memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perubahan kebudayaan agama islam di nusantara. Provinsi yang ada dibagian ujung barat pulau Jawa ini jadi satu diantara saksi kejayaan agam islam nusantara di masa lalu.

Dalam perjalanan sejarahnya, sebagai kota pelabuhan, Provinsi Banten tidak bisa menampik kehadiran beragam jenis agama dan budaya dari luar daerah. Meski begitu, orang-orang Provinsi Banten sendiri dapat dibuktikan kuat didalam menjaga kebudayaan asli para leluhurnya, seperti yang bisa kita saksikan akan kelestariannya sebagian alat musik tradisionil Provinsi Banten yang masih seringkali dimainkan hingga sekarang ini.

Alat Musik Tradisional Banten

Alat Musik Tradisional Banten
Gambar Alat Musik Tradisional Banten

Mungkin Alat Musik Tradisional Banten yang tercatat dalam sejarah kebudayaan Indonesia tidak banyak yang asli muncul atau tercipta dari Banten sendiri. Meski begitu, sebagian salah satunya jadi jadi pionir dan banyak ditiru oleh orang-orang suku yang lain di Indonesia. Satu diantara misalnya yakni alat musik tradisionil bedug. Terkecuali bedung, apa saja alat musik tradisionil dari Provinsi Banten itu yang saya kutip dari alatmusik.org?.

Tersebut ini 5 Alat Musik Tradisional Banten :

1. Bedug

Sebelumnya budaya dan agama Islam masuk ke Indonesia, bedug sudah terlebih dulu dikenal oleh orang-orang Provinsi Banten sebagai gendang tradisionil dan sebagai fasilitas komunikasi. Pada zaman dulu Bedug Banten hanya digunakan pada saat ada acara rampak Bedug atau sebuah kesenian yang didalamnya ada permainan bedug yang dimainkan secara berdampingan.

Dari sisi bentuk, bedug Banten tidak berlainan dengan bedug biasanya, yakni terbuat berbahan kayu besar dan berongga di bagian tengahnya dan di beri membran berbentuk kulit sapi atau kulit kerbau disalah satu sisinya. Pada saat pemasangan membran pada bedug, pada sekelilingnya akan diberi tali dan pasak agar membran terpasang dengan kencang dan akan menghasilkan suara yang keras jika dipukul.

Setelah budaya dan agama Islam masuk, alat musik khas Provinsi Banten ini lalu berpindah peranan sebagai fasilitas penunjuk masuknya saat sholat untuk kaum muslim. Kebiasaan menggunakan bedug ini lalu menebar ke semua orang-orang Melayu di beberapa daerah yang lain yang sudah memeluk agama Islam.

2. Angklung Buhun

Angklung tak cuma dikenal sebagai alat musik tradisionil Provinsi Jawa Barat. Di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, angklung juga jadi instrumen yang sudah lama berada di dalam kebudayaan orang-orang suku baduy. Nama angkung di daerah ini yakni bernama angklung buhun.

Sama seperti dengan angklung biasanya, angklung buhun ini dimainkan dengan cara digoyang-goyangkan. Ketika upacara seren taun atau ritual kebiasaan yang lain, angklung buhun ini dimainkan sembari menari. Sekarang ini alat musik angklung buhun mulai kembali dilestarikan dan di ajarkan oleh anak-anak umur sekolah.

3. Dogdog Lonjor

Diberi nama Dogdog lonjor, sebab alat musik tradisionil yang berasal dari Banten Selatan ini hasilkan bunyi ” dog-dog ” saat dimainkan. Sementara kata ” lonjor ” sendiri didalam bahasa Banten ini berarti panjang, yakni sesuai dengan memiliki bentuk yang panjang sampai 1 m.

Alat musik dog-dog lonjor ini terbuat dari batang kayu berdiameter 20 sampai 30 cm yang berongga di bagian tengahnya. Dan nantinya salah satu dari ujung alat musik ini akan ditutupi oleh membran yang terbuat dari bahan baku kulit hewan yang sudah menjalani beberapa macam proses.

Makin renggang kulit hewan yang dipasang, jadi akan makin nyaring juga bunyi alat musik ini saat dimainkan. Dog dog lonjor pada umumnya akan dimainkan secara berbarengan dengan alat musik angklung buhun pada suatu acara upacara seren taun atau bisa juga dimainkan untuk mengiringi lagu daerah Banten.

4. Pantun Bambu

Pantun Bambu adalah jenis alat musik tradisionil dari Provinsi Banten yang dibuat berbahan bambu. Bambu sebagai resonator didalam alat musik ini biasanya berdiameter 10 cm dengan panjang 80 cm.

Sebagai penghasil nada atau bunyi, dalam alat musik ini dipasangi 3 senar yang terbuat dari sembilu atau kulit bambu. Walau memiliki senar, tetapi alat musik ini tidak dimainkan dengan cara dipetik maupun digesek, tetapi cuma dipukul dengan menggunakan tangkai spesial.

Dulu kala, Pantun Bambu ini memiliki guna untuk dimainkan oleh para petani saat mereka lelah atau penat setelah bekerja seharian di sawah dan dimainkan di gubug-gubug sawah mereka. Namun, didalam perubahannya, alat musik ini sudah banyak dipadukan dengan alat musik yang lain seperti rudat, terbang gede, patingtug, untuk menemani tarian daerah dan lagu daerah Banten.

5. Lesung atau Lisung

Lesung dan alu sejatinya memiliki peranan utama sebagai alat penumbuk padi dimasa lampau. Tetapi, bunyi-bunyian unik yang dibuat saat alu bertumbuk dengan lesung, ditambah lagi jika digunakan dengan berbarengan, alat rumah tangga ini lantas berpindah peranan jadi alat musik tradisionil.